Sabtu, Agustus 13, 2022
BerandaHikmahTeguh Menyuarakan Kebenaran

Teguh Menyuarakan Kebenaran

spot_img
spot_img

Teguh Menyuarakan Kebenaran

 

Oleh : Hesti Rahayu

Suatu hari di Kota Thaif. Pada saat itu Rasulullah SAW sedang melakukan upaya thalabun nusyroh (mencari pertolongan dan perlindungan) kepada masyarakat Thaif, sebuah kota yang bertetangga dengan Makkah. Beliau mengharapkan mereka masuk Islam. Sementara itu, tekanan kaum kafir kepada kaum muslimin sangat berat karena penyebaran dakwah Islam di Makkah berkembang pesat.

Tetapi, upaya Rasulullah mengalami kegagalan. Bahkan sebagai balasannya justru olok-olok anak-anak kecil dan orang-orang bodoh yang beliau terima. Mereka melempari Rasulullah dengan batu, diiringi cacian dan hardikan. Tak ada jalan lain kecuali menyelamatkan diri. Saat itu, laki-laki agung ini terluka. Peluh menetes, napas yang tersengal-sengal, dan pakaian yang kotor serta kaki yang berdarah.

Untunglah, Rasulullah sampai di sebuah kebun anggur milik dua orang lelaki musyrik, ‘Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah. Rasulullah memasuki kebun anggur itu, beristirahat dan berlindung dari kejaran orang-orang Thaif. Air mata Rasulullah SAW menetes. Terasa pilu dan sangat menyedihkan. Diangkatnya kedua tangan menghadap langit, mengadukan keadaannya, seraya berucap:

“Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, dan sedikitnya upayaku, serta tidak berdayanya aku menghadapi manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara hamba-hamba yang pengasih, Engkau adalah Rabbnya orang-orang yang lemah dan juga Rabbku.

Kepada (siapa aku mengadu), apakah kepada Dzat yang membebaniku, atau kepada sesuatu yang jauh dan menerimaku dengan muka masam, ataukah kepada musuh? Sementara Engkau menguasakan perkaraku? Jika saja kemurkaan-Mu tidak menimpaku, tentu aku tidak peduli. Akan tetapi, ampunan-Mu lebih luas untukku daripada kemurkaan-Mu yang akan Engkau timpakan kepadaku, atau Engkau tempatkan aku dalam kemurkaan-Mu. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu, yang engkau hapus segala kegelapan dengan terbitnya (cahaya-Mu), dan Engkau selaraskan urusan dunia dan akhirat dengan baik di atasnya. Hanya untuk-Mu segala kerelaan hinga Engkau ridla. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali bersama-Mu.”

Sementara itu, si pemilik anggur mendengar ada suara di kebunnya. Rasa ingin tahu menguasai rongga dada, tetapi tak ingin ia mengusik orang yang dirasanya asing tersebut. Sebaliknya, dia dengarkan dengan khusyuk apa yang diucapkan orang asing itu, yang tak lain Rasulullah SAW. Terpesona dengan ucapan doa yang belum pernah didengarnya.

‘Utbah dan Syaibah pun memberanikan diri mendekat dan bertanya tentang jatidiri Rasulullah serta meminta penjelasan mengenai hakikat dari ucapan doa yang beliau panjatkan. Singkat cerita, hasil dialog itu menjadikan dua lelaki musyrik pemilik kebun anggur itu menjadi muslim.

Kisah hidup Rasulullah SAW adalah hikmah abadi bagi kehidupan manusia. Sepenggal sejarah dakwah Rasulullah ini menyadarkan kita tentang semangat yang pantang menyerah, dan anti putus asa. Sedih, terluka, terhina, boleh saja, tetapi tidak berarti menyurutkan langkah dalam menyuarakan kebenaran, yaitu Islam.

Tentu, seharusnya malu bagi kita, jika dalam kondisi biasa-biasa saja, atau bahkan dalam kondisi yang serba mudah, kita malas atau bahkan takut untuk menyampaikan kebenaran. Padahal Rasulullah memberi teladan yang sebaliknya. Sungguh, amat dangkal orang yang berpikir dan menyatakan bahwa ”saat ini menyampaikan yang haram saja susah, apalagi menyampaikan yang halal”. Wallahu a’lam bishowab.

Sumber : Republika Online

 

spot_img
spot_img
spot_img
Artikulli paraprakTawakal
Artikulli tjetërTeladan Abu Bakar As-Shiddiq
RELATED ARTICLES
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Panduan Ngaji Merdu Indah dan Tartil Komplit Sampai Bisa , KLIK GAMBAR
Panduan Ngaji Merdu Indah dan Tartil Komplit Sampai Bisa , KLIK GAMBAR

Recent Comments