Pendidikan Agama

 

Oleh : Fahmi AP Pane

Sekolah-sekolah Islam di Andalusia begitu unggul dan tidak tertandingi, baik soal pendidikan agama, kepribadian, maupun sains. Karenanya, negara-negara non-Islam ingin diberi izin menyekolahkan warganya di sana. Termasuk, Raja Inggris Raya, George. Begitu besar hasratnya sampai-sampai dalam surat permohonannya dia menyebut penguasa Andalusia, Khalifah Hisyam III, sebagai paduka yang mulia, dan menggelari dirinya sebagai ‘hamba paduka yang patuh’.

Memang, kala negara menerapkan hukum dan petunjuk Allah, termasuk dalam pendidikan agama, maka manusia diperlakukan sebagai manusia seutuhnya, bukan hanya dianggap modal produksi, pasar industri, atau sumber suara dalam pemilu. Pendidikan agama memenuhi standar keimanan, misal diajarkan guru-guru Muslim yang teruji ketakwaannya di dalam dan luar sekolah.

Kisah George tersebut membuktikan pendidikan Islam membuat iri negara manapun yang tidak menerapkannya. Buktinya, muncul ulama yang menguasai sains dan ilmu agama sekaligus, seperti Imam Bukhari, Syafii, Ibnu Sina, Abu Ishak al-Kindi, dan Al Haitam. Begitu hebatnya hasil pendidikan agama dan sains di era penerapan Islam hingga ulama tersebut bukan hanya memahami ilmu yang telah ada, tetapi juga membuat dasar ilmu dan metodologi baru dan tetap relevan hingga ribuan tahun sesudahnya, seperti hadis, fikih, kedokteran, musik, optik, dan fisika.

Sebaliknya, seperti saat ini, target minimal pun takkan diperoleh. Negara tidak mampu membentuk sumber daya guru bermutu dalam pengetahuan, keterampilan, dan kepribadian. Dana tidak mencukupi, yang sebagian, karena hukum Allah soal pertambangan dilalaikan hingga para kapitalis menguasai aset rakyat itu, dan riba pada sistem keuangan negara yang menguras puluhan triliun rupiah/tahun.

Akibatnya, hanya segelintir sekolah negeri yang mampu memberi pendidikan agama dan sains yang memenuhi standar minimal. Sementara itu, sekolah swasta Muslim gagal dimasuki mayoritas anak negeri karena berbiaya mahal. Bahkan, syarat paling minim dan masuk akal dalam pendidikan agama, yakni diajar oleh guru Muslim dan tujuan membentuk pribadi bertakwa serta berakhlak mulia, dilecehkan habis-habisan.

Sadarilah, bahwa hanya dengan meneladani era Islam, yang menyeimbangkan pendidikan agama dan sains, akan terbentuk saintis bertakwa atau ulama melek teknologi, sekaligus mencegah maraknya narkoba, pergaulan bebas, kebejatan massal, hilangnya penghormatan anak kepada orang tua, pemurtadan, dan lain-lain. Republika Online

Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidakan akan pernah kami publish Kolom yang wajib diisi ditandai *