Menjungkir Balikkan Ayat Al-qur’an & Bekerjasama Dg Jin

Pertanyaan :

Umaroh – gp

Assalamu’alaikum w. w.

Ustadz, bagaimana hukum orang yang menggunakan :

1. ayat al-qur’an untuk pengobatan, pengasihan, mencari barang hilang, dlll

2. bagaimana jika ayat yang digunakan itu dibalik-balik susunannya (exp. alimlaaammimmmm bacanya dibalik/ sungsang) alasanya itu adalah ilmu orang2 terdahulu (baca ulama) dan terbukti khasiatnya plus ditujukan untuk menolong orang lain

3. apa hukumnya orang yang melakukan sesuatu bekerja sama dg jin tp tidak paham atas apa yang dilakukannya itu tlah menjadikannya syrik, kemudian apa yang harus kita lakukan untuk menyadarkannya (mengingat ia merasa benar karna itu ilmu para orang sholih menurutnya), bekal apa yang dibutuhkan bagi da’i tersebut Maaf banyak sekali pertanyaanya, mohon jawaban yang lengkap,

syukron Jazakumullah khoir katsir,

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

1. Perbuatan menjadikan ayat-ayat Al-Quran Al-Karim sebagai mantera ‘pengasihan’ merupakan perbuatan yang menghina kitabullah. Karena ‘ilmu pengasihan’ tidak lain adalah sihir yang dikerjakan oleh jin. Allah SWT sama sekali tidak pernah memberikan ilmu seperti itu. Perbuatan ‘memelet’ lawan jenis merupakan perbuatan syirik kepada Allah SWT dan ma’siat. Apalagi dengan memanfaatkan ayat suci Al-Quran Al-Karim, maka dosanya dua kali lipat. Pertama dosa memelet dan kedua dosa menghina Al-Quran Al-Karim.

Kalau kenyataannya ayat itu ketika dibaca bisa berpengaruh, maka itu adalah perbuatan jin yang kerjanya bisa menyihir orang dan melakukan proses ‘pengasihan’ di alam bawah sadar korban. Perbuatan itu jelas-jelas sebuah sihir dengan berkedok ajaran agama.

Sedangkan bila untuk pengobatan yang syar’i, seperti membacakan ayat kursi atau ayat tertentu untuk ruqiyah yang syari’yah, memang ada contoh dari Rasulullah SAW. Tapi yang ini harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan aqidah dan syariah Islam. Tidak asal pakai ayat dan asal komat-kamit saja.

Begitu juga baca ayat untuk mencari barang hilang, praktek seperti ini umumnya dilakukan oleh jin yang bekerja sama dengan dukun. Praktek seperti ini umumnya adalah sihir yang diharamkan. Sedangkan ayat Al-Quran Al-Karim hanyalah asesoris belaka yang digunakan untuk menimbulkan kesan bahwa praktek itu bagian dari agama. Padahal intinya jelas-jelas merupakan penyelewengan ayat Al-Quran Al-Karim.

2. Perbuatan membalik-balik ayat Al-Quran Al-Karim tidak perlu diragukan lagi merupakan penghinaan dan penginjak-injakan kesucian kitabullah. Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkannya, begitu juga para shahabat dan para ulama salafus-shalih. Tidak ada satu pun bagian dari Islam yang mengajarkan orang untuk membolak-balik ayat Al-Quran Al-Karim.

Ajaran itu datang dari para ahli sihir dan jin-jin jahat yang berkolaborasi menyebarkan kekufuran pada manusia.

3. Orang yang melakukan kerja sama dengan jin dan para ahli sihir tidak mungkin disebut orang shalih apa lagi ulama. Ini adalah penyebutan yang salah kaprah sebagaimana menjadikan artis sebagai ustaz atau rujukan ilmu Islam. Hanya karena kebetulan mereka menggunakan atribut ustaz, lalu tiba-tiba menjadi seperti ustaz beneran. Padahal di kepalanya sama sekali tidak ada apa-apanya.

Seserang hanya bisa disebut shalih manakala punya aqidah yang benar, lurus, jauh dari praktek syirik, tidak menggunakan sihir dan tidak berkomplot dengan jin. Selain itu dia harus paham syariah Islam secara mendetail hingga mempraktekkannya secara benar dalam kehidupannya pribadi, keluarga dan lingkungannya. Dia pun harus memiliki akhlaq yang sempurna sebagaimana akhlaq Rasulullah SAW. Tanpa keriteria seperti itu, dari mana dia mendapat predikat ‘sholeh’? Siapa yang mengangkatnya menjadi ‘sholeh’? Dan sejak kapan dia menyematkan predikat ‘sholeh’?

Untuk menyadarkan orang yang seperti itu memang dibutuhkan orang yang alim dan mendalam ilmunya. Sehingga dia tidak memandang enteng lawan bicaranya. Untuk mereka memang dibutuhkan sosok ulama yang terpandang dari segi ketinggian ilmu agamanya dan keluasan wawasannya. Sosok seperti ini akan memberikan masukan dengan penuh wibawa dan disegani.

Sedangkan bila ‘orang awam’ yang mengingatkan, maka bisa jadi belum apa-apa dia akan bertanya,”Siapa kamu dan apa derajatmu sok mengingatkan ?”. Perkataan seperti ini memang terkesan angkuh, tapi kita bisa memahami bahwa setiap orang pasti tidak bisa dengan mudah menerima begitu saja masukan dari yang lebih bawah, paling tidak menurut dia. Tetapi kalau masukan itu datang dari sosok yang lebih atas dan dia hormati, bisa jadi memang akan lebih efektif. Buat seorang da’i, kenyataan seperti ini sebenarnya manusiawi sifatnya dan bisa dimaklumi.

Sebagai ilustrasi, seorang sarjana S1 tentu akan lebih merasa terhormat kalau diarahkan oleh sarjana S2. Dan seorang sarjana S2 tentu akan lebih merasa terhormat kalau diarahkan oleh sarjana S3. Dan sarjana S3 tentu akan lebih merasa terhormat kalau diarahkan oleh guru besar atau profesornya. Dan bila ada seorang profesor diarahkan oleh seorang lulusan SMU, wajarlah kalau dia memandang rendah. Jadi kalau level profesor, minimal oleh para profesor juga. Biar adil dan seimbang.

Maka untuk ‘berdakwah’ di kalangan level seperti itu, dibutuhkan orang yang minimal selevel agar proses dakwah bisa berjalan secara lembut dan klop.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh. SyariahOnline

Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidakan akan pernah kami publish Kolom yang wajib diisi ditandai *