Jumat, Januari 21, 2022
BerandaHikmahMemulai Perubahan

Memulai Perubahan

spot_img
spot_img

Memulai Perubahan

 

Oleh : Faris Sufi

Kesalahan banyak orang, menurut Syekh Muhammad al-Ghazali, seorang ulama kontemporer Mesir, adalah memulai lembaran baru hidupnya dengan menunggu awal tahun baru atau di saat ulang tahun. Menurutnya hal ini sia-sia dan pasti gagal. Tekad dan cita-cita untuk berubah kepada yang lebih baik hubungannya dengan hati (faktor dari dalam diri), bukan dengan awal tahun atau saat ulang tahun (faktor luar).

Maka di saat lahir himmah atau keinginan yang kuat untuk berubah dan mereformasi diri, jangan tunggu-tunggu lagi dan lakukan saat lagi menggebu-gebu itu. Saat tekad seseorang semakin kuat, beban yang dirasakannya akan semakin lemah. Pada saat itu mulailah perubahan. Dan kebanyakan sesuatu itu, yang beratnya adalah memulainya. Jika kita sudah memulai suatu pekerjaan, seterusnya, pada umumnya akan mudah.

Bagi seorang Muslim, sebenarnya tak perlu memahami sesuatu perubahan terlalu rumit. Simbol pertama perubahan adalah bergerak. Islam mendidik para pemeluknya untuk selalu bergerak. Shalat yang menjadi ibadah ritual terpenting yang dilakukan berulang-ulang lima kali setiap hari adalah rangkaian gerakan-gerakan yang penuh padat. Bukan hanya berdiam diri termenung.

Ada pesan yang dalam dari shalat, bahwa musuh utama Muslim sejati adalah kemandekan, diam, atau hanya berjalan di tempat. Susungguhnya memang esensi terpenting dari tauhid adalah memusuhi kebodohan, kemandekan, serta perbudakan dan pengabdian kepada selain Allah.

Muslim harus penuh aktivitas, seperti shalat yang disyariatkan kepadanya. Mulai dari saat dia bangun saat matahari belum terbit, hingga ujung malam. Maka bergerak dan penuh karya, serta memiliki etos kerja yang tinggi, adalah ciri yang semestinya paling menonjol dari seorang Muslim dalam kehidupannya sehari-hari.

Selain itu perubahan harus dengan perencanaan yang baik. Harus dipikirkan matang-matang. Bisa saja seseorang berubah namun kepada yang lebih jelek, lebih memprihatinkan, atau bahkan lebih mempercepat kehancuran.

Seseorang yang tengah mendirikan shalat, dengan gerakan-gerakan yang teratur dan berkesinambungan itu, juga dituntut untuk khusyuk. Yaitu, konsentrasi penuh yang menghadirkan seluruh jiwa dan segenap pikirannya. Satu lagi pesan penting di sana tentang keseimbangan yang tiada berhenti antara berpikir dan bertindak sepanjang hayat seorang Muslim. Demi sebuah perubahan yang benar dan terus-menerus dalam kehidupan individu seseorang atau pada sebuah tatanan sosial.

Pikiran dan ide-ide yang cemerlang akan sia-sia tanpa dilanjutkan dengan sebuah tindakan. Sebaliknya gerakan tanpa pikiran yang matang dan benar adalah kebodohan, kesia-siaan, dan kehancuran.

Rasulullah SAW bersabda, ”Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah SWT daripada mukmin yang lemah.” Hadits ini mencakup semua potensi kekuatan yang ada pada diri manusia. Yang kuat jasmaninya, kuat pikirannya, dan kuat ibadahnya lebih baik dan dicintai-Nya daripada yang lemah.

Anda bisa memulai perubahan sekarang.

Sumber : Republika Online

 

Memulai Perubahan

spot_img
spot_img
spot_img
Artikulli paraprakMemilih Pemimpin
Artikulli tjetërMenaklukkan Kekerasan
RELATED ARTICLES
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Panduan Ngaji Merdu Indah dan Tartil Komplit Sampai Bisa , KLIK GAMBAR
Panduan Ngaji Merdu Indah dan Tartil Komplit Sampai Bisa , KLIK GAMBAR

Recent Comments